Elemen mahasiswa sejak dahulu dikenal sebagai penyambung lidah rakyat. Peran ini lebih-lebih mencuat ke permukaan, di saat para wakil rakyat yang duduk di kursi legislatif, yang seharusnya menjadi elemen yang benar-benar menyuarakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi ataupun golongan, tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Berbagai kebijakan yang diambil dan dikeluarkan oleh lembaga eksekutif pemerintahan, yaitu presiden dan para menterinya, seringkali merugikan rakyat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Berlandaskan fenomena inilah, pada akhirnya mahasiswa dituntut untuk bergerak, mengambil aksi dan tindakan, turun ke pentas politik untuk mengkritisi dan menuntut kebijakan-kebijakan yang tidak baik tersebut.
Turunnya elemen mahasiswa ke pentas politik, tentu bukan dalam konteks politik praktis seperti yang dilakukan oleh partai-partai politik. Kegiatan politik mahasiswa didasari oleh kesadaran peran, potensi, posisi, dan fungsinya di masyarakat. Potensi intelektual sebagai insan akademik menjadi karakter pergerakan politik yang dilakukan. Itulah karakter yang menjadi mainstream pergerakan. Melawan ketidakadilan kebijakan pemerintah dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Boleh jadi mainstream tersebut akan terus menjadi karakter pergerakan mahasiswa Indonesia, selama pemerintah belum berpikir dan bertindak seadil-adilnya untuk dapat menyejahterakan rakyat Indonesia. Dewasa ini pun demikian. Meski nafas reformasi telah dihembuskan 10 tahun yang lalu, ketidakadilan dan kekurangoptimalan kinerja pemerintah masih ada. Nafas reformasi yang dahulu dihembuskan seakan-akan sekarang sedang tersengal karena berbagai macam hal. Reformasi belum dijalankan secara kaaffah. Padahal, arus globalisasi yang menuntut bangsa kita untuk meningkatkan daya saing di dunia internasional, semakin menyeret kemandirian bangsa Indonesia. Di samping itu, elemen mahasiswa pun belum merenovasi pergerakannya. Mainstream pergerakan sudah seharusnya direnovasi, mengikuti hembusan nafas reformasi yang dahulu pernah dihembuskan. Renovasi bukan berarti meninggalkan mainstream yang dahulu sudah ada, tetapi lebih kepada mengekspansi wilayah garapan pergerakan yang harapannya semakin menambah progresifitas pergerakan mahasiswa di masa yang akan datang.
Mainstream gerakan seperti yang disebut di atas, ternyata tidak hanya dilakukan oleh gerakan mahasiswa Indonesia saja, tetapi dilakukan oleh gerakan mahasiswa di berbagai belahan dunia lainnya sehingga dapat diambil sebuah benang merah gerakan mahasiswa, yaitu,
· Gerakan mahasiswa lahir dari kondisi yang dihadapi masyarakat yang sudah tidak sesuai lagi dengan cita-cita negara dan harapan masyarakat.
· Gerakan mahasiswa merespon berbagai situasi dan kondisi tersebut atas dasar kesadaran moral, tanggung jawab intelektual, pengabdian sosial dan kepedulian politik.
· Situasi global sering menjadi faktor yang memicu dan mematangkan kekuatan aksi mahasiswa.
· Gerakan mahasiswa selalu muncul sebagai pelopor dari sebuah aksi perlawanan yang memicu dukungan serta aksi-aksi sejenis dari unsur-unsur sosial politik lain.
· Dalam eskalasi gerakan, kekuatan mahasiswa akhirnya harus beraliansi dengan unsur-unsur kekuatan lain hingga tujuan perjuangannya tercapai
· Model gerakan mahasiswa –khususnya yang terorganisir dan radikal- umumnya diilhami atau dilandasi oleh suatu ideologi tertentu. Biasanya ideologi yang dianut adalah antitesis dari ideologi kemapanan yang dianut negara.
Benang merah di atas menjadikan mainstream gerakan yang telah ada saat ini menjadi sebuah karakter gerakan mahasiswa yang sulit diubah. Namun, seperti yang telah disebutkan bahwa perlu upaya ekspansi garapan gerakan mahasiswa agar progresifitas gerakan mahasiswa menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Mengutip beberapa kalimat yang dilontarkan salah seorang aktivis:
Teriakan berantas kebodohan, menggelikan ketika keluar dari mulut mahasiswa bodoh!
Mahasiswa pemalas yang tidak bebas dari penyakit finansial, absurd ketika berteriak bebaskan rakyat dari kemiskinan!
Mahasiswa mencontek jawaban ujian, tidak pantas berteriak anti-korupsi!
Dengan demikian, sebenarnya gerakan mahasiswa ITB pada khususnya ke depan perlu mempertimbangkan beberapa analisis berikut ini,
1. Analisis kondisi eksternal
a. Kisruh politik praktis sebagai proses pemanfaatan momentum reformasi sesaat
b. Globalisasi di bidang ekonomi (The World is Flat, Thomas L. Friedman)
c. Tidak adanya musuh bersama
d. Variasi ideologi dan misi gerakan
e. Masyarakat mulai resisten terhadap gerakan anarkistis mahasiswa; masyarakat memerlukan solusi konkret, teladan, studi kasus, success story, dan know-how yang dimiliki oleh mahasiswa sebagai insan akademik
f. Bobroknya tata nilai dan moral di masyarakat
2. Analisis kondisi internal
a. Visi ITB sebagai world class university; kampus berbasis riset
b. Waktu studi yang relatif lebih singkat
c. Dominansi mahasiswa berekonomi menengah ke atas
d. Biaya kuliah yang relatif lebih tinggi
e. Apatisme mahasiswa terhadap gerakan
f. Kuriusitas mahasiswa bergeser kepada hedonisme
Dari berbagai analisis di atas, maka beberapa poin garis besar yang diusulkan mengenai gerakan mahasiswa ITB terutama di tahun 2009 sehingga dapat memulihkan dan meningkatkan citra serta meningkatkan progresifitas kemahasiswaan ITB adalah:
1. Melakukan pencerdasan politik nilai kepada masyarakat luas menyusul perhelatan akbar demokrasi, yaitu pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden langsung.
2. Menyadarkan seluruh elemen gerakan terkait musuh bersama sehingga sasaran pergerakan menjadi jelas (re-define).
3. Membuat akselerasi kaderisasi gerakan kemahasiswaan, menelurkan alumni yang berafiliasi kepada Islam, memiliki kapasitas internal (e.g. kokoh dan mandiri, spesialis berwawasan global, dinamis dan kreatif), serta memiliki kapasitas eksternal (cakap memangku jabatan di masyarakat, menjadi agent of change, dapat membangun ketokohan sosial).
4. Mulai melakukan ekspansi penguasaan dan pemanfaatan serta pengambilalihan teknologi bagi kemashlahatan umat dan bangsa.
“Sepertinya, sejarah terlanjur mempercayakan kepada pemuda (mahasiswa)
untuk membuat perubahan.”