BANDUNG, (PR).-
Sekitar 100 mahasiswa yang tergabung dalam Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) melakukan aksi solidaritas rakyat Palestina untuk memperingati 20 tahun Gerakan Intifadah di depan Gedung Sate, Jln. Diponegoro Bandung, Jumat (7/12). Mereka menuntut pemerintah Indonesia agar bisa memberikan dukungan nyata terhadap kemerdekaan Palestina.
Mereka meminta seluruh rakyat Indonesia bisa berpartisipasi dalam mendukung saudaranya yang terdesak di Palestina. “Tanggal 8 Desember 1987 merupakan hari bersejarah bagi perjuangan Palestina yang bertepatan dengan lahirnya Gerakan Intifadah,” ujar Koordinator FSLDK Bandung Raya Ridwansyah Yusuf A.
Menurut dia, Gerakan Intifadah merupakan gerakan pembebasan yang memunculkan keinginan untuk bangkit atas ketidakadilan dan segala bentuk kezaliman yang dilakukan Israel. “Kita sebagai bangsa yang mayoritas Islam diharapkan bisa memberi dukungan yang nyata terhadap Palestina,” ujar Ridwansyah.
Dalam aksi itu, massa membentuk lingkaran besar di depan pagar Gedung Sate sambil meneriakkan kecaman terhadap Amerika sebagai teroris. Aksi HAM
Tak beberapa lama, massa dari Front Perjuangan Rakyat (FPR) melakukan aksi dalam rangka menyambut Hari Hak Asasi Manusia (HAM) se-dunia yang jatuh pada 10 Desember.Mereka menuntut pemerintah agar bisa menyelesaikan segala permasalahan HAM di Indonesia secara lebih komprehensif dan serius. “Kami berharap Komisi Nasional (Komnas) HAM di Indonesia tidak sekadar menjadi pemberi rekomendasi, tapi juga bisa menindaklanjuti dan menyelesaikan permasalahan HAM,” kata Koordinator FPR, Asdam. (A-154)***

taken from: http://pikiran-rakyat.com/

I believe that Allah create us as social creature. It means that every people need for help from another people. People need for a relationship with another people for his/her continuity of life. In that case, a people have to build a good relation with the other people. Relation in Islam called ukhuwwah. Ukhuwwah spared by two, ukhuwwah Islamiyah and ukhuwwah jahiliyah.

            Ukhuwwah jahiliyah, as we know, is so far away from Islam.

            Rasulullah saw said that the faithful of is incomplete until he love his brother like he love his own self. It indicates that ukhuwwah take an important role of people’s life.  With ukhuwwah, many prolems in our life can more easier to be solved. The power of Islam, beside its aqidah, is placed on its unity of the ummah. Today, Islam weak because the unity is also weak.

Seorang pemuda bertanya kepada ibunya :

“Ibu, ceritakan padaku tentang Ikhwan Sejati

Sang Ibu tersenyum dan menjawab :

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar

o   Tetapi dari kasih sayangnya kepada orang di sekitarnya

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang

o   Tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya

o   Tetapi dari sikap bersahabatnya kepada generasi muda bangsa

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempat kerja

o   Tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan

o   Tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang

o   Tetapi dari hati yang ada di balik itu

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja

o   Tetapi dari komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan

o Tetapi dari tabahnya dia menjalani lika-liku kehidupan

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya dia membaca al-Qur’an

o Tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang dia baca

 

Setelah itu, pemuda tadi bertanya lagi :

“Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Bu?”

Sang Ibu memberinya buku dan berkata :

“Pelajari tentang dia.”

Sang Pemuda pun mengambil buku itu.

MUHAMMAD’, judul yang tertulis di buku itu.

Wahai Ali,
Bagi orang mukmin ada 3 tanda-tandanya
Tidak terpaut hatinya pada harta benda dunia
Tidak terpesona dengan pujuk rayu wanita
Benci terhadap perbualan dan perkataan sia-sia

 

Wahai Ali,
Bagi orang alim itu ada 3 tanda-tandanya
Jujur dalam berkata-kata
Menjauhi segala yang haram
Merendahkan diri

 

Wahai Ali,
Bagi orang yang takwa itu ada 3 tanda-tandanya
Takut berlaku dusta dan keji
Menjauhi kejahatan
Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman

J

ika kita cukup cermat memperhatikan berita di televisi setahun yang lalu, sejak pagi hingga tengah malam nyaris semua stasiun TV menyajikan liputan mengenai kasus gizi buruk di beberapa daerah. Bahkan ada sebuah stasiun TV yang berulang-ulang menayangkan seorang ibu di RS Abdul Muluk, Lampung, yang menangis histeris di depan anaknya yang baru meninggal karena mengalami gizi buruk. Sorotan kamera memperlihatkan dengan jelas seorang bayi dengan tubuh yang sangat kurus. Seperti seonggok tulang berbalut kulit keriput yang sedang dipompa untuk membantu pernapasan sang bayi, namun usaha tim dokter terhenti oleh kuasa Allah subhanahuwata’ala yang berkehendak lain. Meledaklah tangis sang ibu melihat perlahan-lahan bayi yang dicintainya itu menutup mata untuk selamanya.

Siapa yang tidak merasa tertusuk mata fisiknya ketika melihat peristiwa di atas. Siapa yang tidak teriris mata batinnya ketika mengetahui peristiwa di atas.

Peristiwa tersebut dapat menjadi sejarah perjalanan negeri ini. Sebuah negeri dengan keanekaragaman sumber daya, namun belum mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Kita bisa melihat berbagai prestasi negeri ini dalam hal keanekaragaman sumber dayanya. Kita adalah salah satu penghasil timah, aspal, dan minyak bumi terbesar di dunia. Selain itu, luas lahan perkebunan, persawahan, ladang, dan perikanan tidak bisa kita katakan sempit. Sungguh amat luas karunia Allah berupa kenekaragaman sumber daya yang Dia titipkan kepada negeri ini.

Lantas mengapa peritiwa kelaparan—satu dari banyak permasalahan sosial dan ekonomi yang melanda negeri ini—masih kita jumpai sampai detik ini? Mungkin kita masih kurang mampu mengolah sumber daya tersebut. Mungkin teknologi yang ada saat ini belum bisa mengelola dan mendistribusikan sumber daya tersebut secara merata ke seluruh pelosok negeri. Atau mungkin kita kurang peka dan kurang bersyukur?

Ketahuilah, seminim apapun ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita miliki sekarang, tetapi jika kita memiliki kepekaan dan rasa syukur yang tinggi, maka peristiwa di atas tidak akan terjadi. Ingat kisah Khalifah Umas bin Khattab radhiyallahu anhu yang mengantarkan sendiri persediaan makanan bagi rakyatnya. Ingat pula kisah Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu yang kaya namun banyak berderma. Itulah bukti kepekaan yang mampu mengantarkan rakyat menuju kesejahteraan.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”   

Ya Rabb, jangan ada lagi sebagian dari saudara kami yang terus-menerus berada dalam kesusahan. Tumbuhkanlah rasa kasih  sayang kami terhadap mereka. Ringankanlah tangan kami untuk senantiasa memberi dan memberi. Amiin.

Wallahu a’lam.

Dalam rangka menyambut Kongres Sedunia tentang Perubahan Iklim Dunia, SIKIB (Serikat Istri Kabinet Indonesia Bersatu) berencana menyelenggarakan Gerakan Menaman Sejuta Pohon dengan menggerakkan ibu-ibu PKK di seluruh kecamatan se-Indonesia. Kegiatan akan dilakukan sekitar tanggal 1 Desember (awal Desember) 2007. Tujuan acara ini adalah berusaha mengembalikan fungsi Indonesia sebagai paru-paru dunia, julukan yang sudah disandang Indonesia sejak dahulu karena dikenal sebagai negara tropis yang banyak dianguherahi hutan-hutan tropis.

Latar belakang lainnya ialah ingin mengurangi jumlah polusi udara yang secara ilmiah dapat berdampak pada perubahan iklim menjadi iklim yang tidak bersahabat dengan manusia. Pemanasan global membuat permukaan air laut naik 5-6 inchi per tahun. Hal ini dapat diminimasi dengan mengurangi efek rumah kaca (green house efek). Langkah penanaman sejuta pohon cukup tepat.

Tahu sudah berapa tahun bangsa kita memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka? Lebih lama mana dengan Singapura atau Malaysia?  Bagi yang tahu sejarah tentunya tahu bahwa bangsa kita ini lebih dahulu merdeka.

Belakangan santer diberitakan tentang perusahaan asing yang saat ini sedang menanam saham cukup besar di dua perusahaan kita. Perusahaan asing tersebut adalah Temasek yang punya saham 40 % di Indosat dan 36% di Telkomsel. Dan kepemilikan Temasek atas saham di dua BUMN kita ini sedang diusut oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Hasil penyelidikan KPPU, terbukti Temasek secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 27 huruf a UU no 5 tahun 1999. Dalam pasal tersebut dikatakan, pelaku usaha dilarang memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegitan usaha di bidang yang sama, pada pasar yang sama, satu pelaku usaha atau kelompok usaha menguasai lebih dari 50% pangsa pasar atau jenis barang atau jasa tertentu.

Hasil penyelidikan KPPU tersebut menimbulkan pro dan kontra. Bagi yang pro, mereka mendorong dan mendukung KPPU untuk secepatnya membuat Temasek melepas saham-sahamnya di Indosat dan Telkomsel sampai maksimal 5%. Kelompok yang pro menilai, kepemilikan saham Temasek yang cukup besar membuat ketidaksehatan dalam bisnis komunikasi seluler. Disinyalir sejak 2003 sampai 2006, konsumen dirugikan senilai 30 trilyun rupiah akibat ‘monopoli’ yang dilakukan Temasek di Indosat dan Telkomsel. Selain itu jelas bahwa kelompok usaha Temasek sudah menguasai pangsa pasar sejumlah lebih dari 50% seperti yang tertuang dalam UU di atas.

Kelompok yang kontra menilai bahwa tuduhan KPPU yang dilayangkan kepada Temasek salah alamat, alias nyasar. Mereka menyatakan bahwa yang memiliki saham di Indosat dan Telkomsel buka Temasek langsung, melainkan semacam anak perusahaannya, yaitu Singtel di Telkomsel dan STTelecommunication di Indosat. Karena kedua anak perusahaan ini berdiri sendiri, menurut kelompok yang  kontra, tidak bisa dinilai Temasek melakukan praktik monopoli.

Saya pribadi menilai, selayaknya market share yang muncul dari bisnis telekomunikasi yang dilakukan oleh perusahaan negeri kita masuk ke  kas negara kita sendiri, bukannya ke kas negara/perusahaan bangsa lain. Sebenarnya hal seperti ini tidak hanya terjadi pada bisnis telekomunikasi, melainkan di banyak bisnis lain. Misalnya di bidang eksplorasi kekayaan alam: minyak, gas, dan barang-barang tambang lainnya.

Kemanakah putra-putri bangsa? Tidak adakah yang memiliki keinginan dan tekad untuk merebut BUMN-BUMN tersebut kembali ke pangkuan ibu pertiwi?

“Dan tidak mungkin seorang nabi yang diberikan wahyu oleh Allah berkata, ‘Jadilah kalian penyembahku, bukan penyembah Allah.’ Tetapi (berkata), ‘Jadilah kalian generasi rabbaniyyin, karena kalian mengajarkan Al-Kitab (al-Qur’an) dan kalian mempelajarinya.’”

Ali ‘Imraan, 3 : 79

Jewels in the Quran

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?" QS. Fushshilat [41] : 30-33

 

July 2008
M T W T F S S
« Dec    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tags

Blog Stats

  • 792 hits